Siswa Asal Indonesia Ikuti Olimpade Internasional di Singapura

3

Jakarta – Fredrick Ardiy Gan begitu antusias memimpin rekan-rekannya menuntaskan tugas membuat bola melintas di jalurnya lebih lama. Hasilnya sangat memuaskan.

“Nilainya grup mana yang bisa membuat bola semakin lama turun dari lintasannya,” ujar Fredrick Ardiy, Senin (5/12/22).

Bocah 12 tahun itu adalah siswa kelas 8, sekolah Bina Tunas Bangsa (BTB), Pluit, Jakarta Utara. Dia adalah satu dari 86 siswa asal Indonesia yang berangkat ke Singapura dalam kompetisi STEAM AHEAD 2020. Kompetisi yang berlangsung dari Sabtu (3/12) hingga Selasa (6/12/22).

STEAM AHEAD 2020 merupakan ajang kompetisi olimpiade tingkat internasional untuk bidang matematika dan sains. Ada 519 siswa dari 20 negara yang mengikutinya. Mereka masih dalam usia tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Setiap siswa ada yang mengikuti satu bidang ada yang dua bidang.

Olimpiade matematika disebut The International Junior Math Olympiad (IJMO). Untuk bidang sains disebut Vanda.

Antusiasnya Fredrick Ardiy karena kompetisi serupa sudah sering diikuti. Baru-baru ini dia mengikuti di negara lain. Bagi dia, olimpiade sains atau matematika sangatlah penting. Di samping untuk mengasah kemampuan dan hobinya memecahkan soal matematika, dia  ingin mengejar impian untuk kuliah nanti di luar negeri dengan jalur beasiswa.

Semangat serupa juga diperlihatkan oleh Nicholas Irvine Cedri Yap. Siswa kelas 9 dari Raffles Christian School Kelapa Gading, Jakarta itu sangat percaya diri memecahkan soal untuk sains di Steam Ahead 2022. Soal-soal di bidang fisika, kimia, sains umum dapat dipecahkan bersama tim.

Steam Ahead 2022 digelar oleh Singapore International Mastery Contest Center (SIMCC), sebuah lembaga penyelenggara olimpiade edukasi berbasis di Singapura. Olimpiade yang digelar bidang bahasa Inggris, Sains, matematika, dan IT. Hingga 2022 sudah 42 negara.

Selama dua tahun sebelumnya olimpiade Steam Ahead digelar secara daring. Khusus pada 2022 mulai digelar secara luring di Singapura yang diikuti 20 negara.

Setiap peserta dikirim langsung oleh sekolah masing-masing. Mereka didampingi orang tua dan guru asal sekolah.

Erik gan, orang tua dari Fredrick, mengaku sengaja mendampingi buah hatinya berkompetisi pada Steam Ahead 2022. “Saya memberikan ruang bagi anak-anak untuk menjadi apa ke depannya. Jika ada kesempatan untuk mengembangkan diri, kami berikan ruangnya,” ujar Erik Gan, Senin (5/12/22).

Begitu juga dengan Poegoeh Harjianto, ayah dari Nicholas Irvine. Baginya, olimpiade serupa atau kompetisi sains merupakan kesempatan untuk mengasah kemampuan anak-anak.

Sebab, ke depannya tantangan dari anak muda Indonesia semakin berat ke depan. Mereka harus mulai melatih diri dari dini. Sehingga ketika masuk pada usai kuliah nanti mereka sudah siap.

“Mereka harus menciptakan sesuatu. Kalau berbisnis tentu harus memiliki modal ilmu yang kuat,” ujar Poegoeh.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha tambak udang itu tidak menuntut anaknya untuk menjadi pengusaha seperti dirinya.

“Biar anak menjadi diri sendiri agar dia mandiri. Kami orang tua hanya mempersiapkan dan memberikan ruang saja,” tandasnya. (***)