Bahlil Bidik Perusahaan Vaksin Jepang untuk Investasi di Indonesia

6

JAKARTA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membidik perusahaan farmasi global asal Jepang, Takeda untuk berinvestasi di Indonesia. Dalam hal ini, Bahlil mendorong Takeda untuk membuat industri vaksin demam berdarah di Indonesia.

Menteri Bahlil menyatakan, bahwa Indonesia membutuhkan vaksin demam berdarah untuk mencegah perluasan penyakit dan kematian akibat demam berdarah. Terlebih, RI dikenal sebagai negara endemis demam berdarah, terutama saat memasuki musim hujan di wilayah Timur, Kalimantan, dan Jawa.

Pernyataan ini disampikan Bahlil saat melakukan pertemuan dengan President/Chief Executive Officer (CEO) Takeda Pharmaceutical Company Christophe Weber di Paviliun Indonesia, Davos, Swiss.

Dalam pertmuan itu, Bahlil juga mengapresiasi upaya Takeda mengembangkan vaksin demam berdarah dan investasi Takeda yang telah berada di Indonesia sejak 1971 pada sektor farmasi.

“Saya berterima kasih kepada Takeda atas produk-produknya yang telah banyak membantu masyarakat Indonesia. Kami dorong Takeda untuk jangan hanya mengimpor vaksinnya tapi juga produksi di Indonesia,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis, Jumat (20/1).

Lebih lanjut, Bahlil menyatakan siap untuk mendukung program dan rencana investasi Takeda serta akan membantu mengkoordinasikan program vaksinasi demam berdarah dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Bahkan, kata Bahlil, melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM), Indonesia telah memberikan persetujuan kepada Takeda. Utamanya terkait penggunaan Vaksin Dengue Tetravalen (TAK-003) untuk demam berdarah khususnya bagi kelompok umur 6-45 tahun.

Menanggapi hal tersebut, President/Chief Executive Officer (CEO) Takeda Pharmaceutical Company, Christophe Weber menyampaikan bahwa Takeda membuka kemungkinan untuk memproduksi vaksin demam berdarah di Indonesia selama ada mitra lokal yang tepat.

“Kami berharap akan membantu masyarakat Indonesia dengan vaksin ini, mengingat demam berdarah merupakan masalah yang ada di Indonesia. Saya ingin memberitahukan bahwa kami sangat berkomitmen untuk bekerja dengan baik dan bekerjasama dengan Indonesia. Kami harapkan dukungan dari Bapak Menteri untuk program vaksin ini. Kami juga terbuka atas kemungkinan bermitra dengan perusahaan lokal Indonesia,” jelas Weber.

Terkait itu, Kementerian Investasi/BKPM menyatakan siap untuk memfasilitasi dan mempertemukan mitra lokal yang sesuai dengan kebutuhan Takeda. Untuk diketahui, Takeda adalah perusahaan farmasi global asal Jepang yang berinvestasi dalam penelitian dan mengkomersialkan lebih dari 700 produk di 70 Negara dan memiliki lebih dari 55.000 karyawan secara global.
Di Indonesia, Takeda telah menjadi mitra layanan kesehatan utama selama lebih dari 50 tahun dan berkontribusi pada penyakit kompleks seperti onkologi, perawatan primer dan layanan kesehatan konsumen.

Adapun Paviliun Indonesia, merupakan agenda Pemerintah Indonesia yang diselenggarakan bersamaan dengan gelaran kegiatan World Economic Forum (WEF) 2023 yang diadakan setiap tahun di Davos, Swiss mulai tanggal 16-20 Januari 2023.

Penyelenggaraan Paviliun Indonesia 2023 ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Investasi/BKPM dengan KADIN dan didukung oleh Kementerian/Lembaga lainnya. Dalam praktinya, Paviliun Indonesia mendorong nilai tambah melalui investasi yang berkelanjutan dan inklusif di sektor-sektor dengan produktivitas tinggi.

Seperti hilirisasi industri, perdagangan barang dan jasa secara digital, serta mendorong kolaborasi antara investor asing dengan perusahaan dalam negeri, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah dimuat pada paragraf ke-37 dalam Leader’s Declaration G20 lalu. (jpc)