1.085 Jiwa Mengungsi, 18 Orang Hilang Akibat Kebakaran Depo Pertamina

1

Wartapekan.com, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan, sebanyak 1.085 jiwa mengungsi akibat kebakaran yang terjadi di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta Utara. Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Jumat (3/3) malam.

“Pengungsian ini ada 1.085 jiwa yang mengungsi. Ini tersebar, ada di kantor PMI, di Masjid Asolihin, kelurahan, di Kecamatan Rawabadak Selatan, di gedung Golkar Walang dan di tempat-tempat lainnya,” kata Suharyanto saat meninjau tenda pengungsian di RPTRA Rasela, Rawabadak, Jakarta Utara, Minggu (5/3).

Perwira tinggi TNI AD ini menyebut, peristiwa kebakaran itu juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Berdasarkan data yang diterima BNPB, sampai saat ini tercatat ada 17 jiwa meninggal dunia, 49 orang luka berat, dan 18 orang masih dinyatakan hilang.

“Ini yang hilang bukan berarti menjadi korban, kita masih mencari keterangan terus,” ucap Suharyanto.

Suharyanto memastikan, pihaknya menangani dengan baik warga terdampak kebakaran. Dia menyebut, BPBD DKI Jakarta dengan sejumlah pihak telah mendirikan tenda pengungsian. Bahkan, bantuan makanan dan alat pakaian juga sudah turun membantu para korban.

“Tentu saja semua komponen bangsa kita lihat terlibat, BPBD dengan BNPB bahu membahu juga ada kelihatan Kemensos, ada kementerian/lembaga yang lain, TNI-Polri, ada juga dari para organisasi kemasyarakatan penggiat bencana turun, kalau kita lihat tenda-tenda juga sudah terpasang, logistik juga sudah mengalir terus,” ucap Suharyanto.

Suharyanto pun menegaskan, pihaknya bersama tim DVI Polri terus melakukan pencarian terhadap korban hilang. Namun, hal ini membutuhkan waktu.

“Pencarian terus dilakukan, karena ini memang terpisah dari keluarga, dari Polri dan DVI juga melihat apakah ada korban lagi di reruntuhan di obyek-obyek yang kebakar atau memang mereka meninggalkan, belum berkomunikasi dengan keluarga. Karena kan tempatnya sangat padat, mudah-mudahan nanti jam demi jam, menit demi menit ini terus bisa ditemukan,” pungkas Suharyanto.

Opsi dari Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Plumpang dipindahkan ke Pulau Reklamasi. Sebab, kawasan TBBM Plumpang merupakan zona berbahaya yang tidak boleh ditinggali masyarakat.

Namun, Jokowi juga memberi opsi. Apabila Depo Pertamina Plumpang tidak dipindah, nantinya masyarakat yang akan direlokasi ke tempat yang lebih aman.

“Karena ini zona yang bahaya, tidak bisa lagi ditinggali, tetapi harus ada solusinya. Bisa saja Plumpangnya digeser ke reklamasi atau penduduknya yang digeser ke relokasi,” kata Jokowi saat meninjau tenda pengungsian di RPTRA Rasela, Rawabadak, Jakarta Utara, Minggu (5/3).

Kepala negara mengaku, telah memerintahkan Menteri BUMN Erick Thohir dan Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mencari solusi terbaik. Menurut Jokowi, kawasan TBBM Plumpang seharusnya dikelilingi air, karena merupakan zona berbahaya.

“Ini akan segera diputuskan sehari dua hari ini oleh Pertamina, Gubernur DKI, sehingga solusinya menjadi jelas. Tetapi memang zona ini memang harusnya zona air, entah dibuat sungai entah dibuat harus melindungi dari objek vital yang kita miliki,” papar Jokowi.

Kepala negara mengungkapkan, sekitar kawasan tersebut di dalamnya banyak bahan-bahan berbahaya. Sehingga memang tidak layak untuk ditinggali.

“Karena barang-barang didalamnya, barang-barang yang sangat bahaya untuk berdekatan dengan masyarakat, apalagi dengan pemukiman penduduk,” pungkas Jokowi. (rls)