Tak Sampai Tiga Pekan, 3 Prajurit TNI Gugur di Papua

3

Wartapekan,com, Jakarta – Tepat sepekan pasca meninggalnya Pratu Hamdan di Distrik Yal, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Angkatan Darat kembali kehilangan prajurit. Minggu (9/4) sore Sertu Robertus Simbolon meninggal setelah kontak tembak dengan kelompok separatis teroris (KST).

Robertus merupakan personel Satuan Tugas (Satgas) Yonif Para Raider 305/Tengkorak. Berdasar informasi yang diterima Jawa Pos kemarin (10/4), satgas tersebut berasal dari Karawang, Jawa Barat. Mereka bertugas di Papua sejak tahun lalu.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Kavaleri Herman Taryaman menyampaikan, kontak tembak yang menewaskan Sertu Robertus terjadi di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Kontak tembak antara KST dan Satgas Yonif Para Raider 305/Tengkorak terjadi sore. Persisnya pukul 16.00 WIT.

Setelah kontak tembak tersebut, jenazah Sertu Robertus langsung disemayamkan di RSUD Sugapa untuk diterbangkan ke Timika, Kabupaten Mimika.

Menurut Herman, prajurit TNI di Distrik Sugapa masih mewaspadai kemungkinan munculnya serangan susulan oleh KST.

”Situasi saat ini di Sugapa, aparat TNI melaksanakan siaga untuk mengantisipasi serangan dari gerombolan KST,” kata perwira menengah TNI-AD dengan tiga kembang di pundak itu.

Selain Pratu Hamdan dan Sertu Robertus, satu prajurit TNI lainnya yang kehilangan nyawa dalam kurun tak sampai tiga pekan ini adalah Serda Riswar Ramli Mansaber.

Bersama personel Polri Bripka Mesar Indey, dia kehilangan nyawa setelah baku tembak dengan KST di Distrik Ilu, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu (25/3) malam.

Keduanya meninggal saat bertugas mengamankan ibadah salat Tarawih di Masjid Al-Amaliah.

Serangan oleh KST di Papua terjadi di tengah ikhtiar penyelamatan pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens. Sampai kemarin, pilot berkewarganegaraan Selandia Baru itu masih disandera KST. Philip berada di tangan kelompok separatis tersebut lebih dari dua pekan.

Komandan Komando Pelaksana Operasi Pencarian Pilot Susi Air Brigjen TNI J.O. Sembiring memastikan bahwa langkah-langkah yang dilakukan TNI-Polri bukan operasi militer.

Menurut Sembiring, pihaknya masih mengedepankan komunikasi dengan pemerintah daerah dan para tokoh.

”Semua kegiatan itu memerlukan waktu yang tidak singkat karena kami memprioritaskan keselamatan pilot sebagai yang utama,” tegasnya.

Dia pun meminta semua pihak mendoakan tim yang bekerja untuk menyelamatkan pilot tersebut.

Secara tegas, jenderal bintang satu TNI-AD itu menyampaikan bahwa tidak ada operasi militer dalam pencarian Philip.

”Yang kami lakukan selama ini adalah smart approach. Yaitu, soft approach dan hard approach melalui negosiasi dan penegakan hukum yang dilakukan tim gabungan,” jelas dia.

Sejauh ini, tim gabungan TNI dan Polri telah mendapat sejumlah barang bukti atas pelanggaran hukum yang dilakukan KST. Di antaranya, barang bukti senjata api.

”Ada senjata rampasan dan penemuan yang merupakan senjata milik TNI yang berhasil kami peroleh dari gerombolan teroris,” ujarnya. (jpg)