Seorang siswa dapat menyebutkan definisi ekosistem dengan sempurna di dalam ujian, namun bingung ketika ditanya mengapa ekosistem Deep Learning hutan rawa gambut di Riau mengalami degradasi. Ia dapat menghafal konsep rantaDeep Learning makanan, tetapi tidak mengerti mengapa hilangnya satu spesies dapat menganggu keseimbangan seluruh komunitas di dalam satu ekosistem. Fenomena ini menggambangkan pendekatan pembelajaran biologi yang lebih mengutamakan hafalan dari pada pemahaman bermakna. Kemendikdasmen menegaskan bahwa pendekatan ini berorientasi pada pemahaman yang mendalam, makna yang relevan, dan pengalaman belajar yang menyenangkan. Harapan besarnya adalah menghasilkan generasi yang kritis, kolaboratif, kreatif, dan adaptif menghadapi tantangan abad ke-21.
Melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 secara resmi mengintegrasikan pendekatan Deep Learning dalam praktik pembelajaran nasional mulai tahun ajaran 2025/2026. Namun, penting untuk meluruskan bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum baru, bukan pula pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan ia adalah pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam kurikulum apapun baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka. Kemendikdasmen membangun pendekatan deep learning di atas tiga pilar utama yang saling menopang dan melengkapi. Ketiga pilar ini adalah Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning yang bersama-sama membentuk ekosistem belajar yang utuh.
“Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang fokus pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bukan sekadar mengejar ketuntasan materi. (Abdul Mu’ti, Mendikdasmen, 2025)”.
Pendekatan pembelajaran deep learning dapat dikombinasikan dengan pendekatan pembelajaran atau metode pembelajaran lain, misalnya dengan :
Model Pembelajaran Problem-Based Learning
Peserta didik dihadapkan pada kasus nyata penurunan indeks keanekaragaman hayati di kawasan terdekat. Mereka mengintegrasikan pengetahuan ekologi, menganalisis data lapangan, mengkaji teknologi pemantauan, dan merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Investigasi Lapangan Terintegrasi
Pengamatan langsung di ekosistem local seperti sungai, kebun sekolah, atau taman kota memungkinkan siswa mengalami konsep biodiversitas secara langsung dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya dari berbagai dimensi
Debat Akademis Isu Lingkungan
Topik seperti konversi hutan menjadi perkebunan atau introduksi spesies asing untuk pariwisata mendorong siswa berpikir kritis, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan berargumentasi berbasis data ilmiah membangun kemampuan berpikir Tingkat tinggi (HOTS).
Proyek Solusi Berbasis Teknologi
Siswa merancang proposal solusi nyata aplikasi identifikasi spesies lokal, kampanye pelestarian berbasis media sosial berbasis data ilmiah, atau desain koridor ekologi yang mengintegrasikan semua dimensi dalam satu produk bermakna.
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 secara eksplisit mengamanatkan perubahan pada muatan mata pelajaran agar mencerminkan pembelajaran yang lebih mendalam, kontekstual, dan berkesadaran. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa deep learning dapat dikemas dengan berbagai tema dan dikaji secara lintas mata Pelajaran satu pokok bahasan ekosistem, misalnya, dapat sekaligus menyentuh dimensi geografi (sebaran biodiversitas), ekonomi (valuasi jasa ekosistem), dan sosiologi (kearifan lokal dalam konservasi). Implementasi pendekatan ini memerlukan kesiapan guru untuk merancang pengalaman belajar yang kompleks, keterbatasan infrastruktur di berbagai daerah, dan tekanan sistem evaluasi yang masih dominan mengukur hafalan adalah tantangan nyata yang tidak bisa diabaikan.
Penulis : Awanda Prasono
Dosen Pengampu : Dr. Sri Wulandari, M.Si



