Pekanbaru – Seorang guru bercerita mengenai pertanyaan siswa yang menanyakan mengenai bagaimana seseorang bisa dideteksi menderita virus Covid-19 dalam waktu yang singkat dengan sampel yang sedikit. Pertanyaan ini menyadarkan bagaimana guru biologi berada pada barisan terdepan menghadapi bidang ilmu yang berkembang pesat.
Contoh lain yang sering terjadi di sekolah adalah guru biologi cukup mengajarkan materi hukum mandel dan struktur DNA sebagai fondasi genetika, tetapi tidak menjelaskan bagaimana penerapan hukum mandel dan struktur DNA tersebut ke dalam perkembangan teknologi terbaru seperti tes DNA, transfer gen, memanipulasi DNA atau bagaimana sifat-sifat dapat diwariskan dan diekspresikan.
Guru biologi yang seharusnya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, namun sering kali tidak memiliki daya dukung untuk mengikuti perkembangan tersebut. Salah satu tantangan paling mendasar yang dihadapi guru biologi adalah waktu, terjadi kesenjangan waktu yang signifikan antara penemuan ilmiah dengan penerapan pengetahuan tersebut ke dalam kurikulum formal. Beban mengajar yang tinggi, tanggung jawab administatif, dan keterbatasan anggaran menjadi alasan lain guru biologi hanya terpaku kepada buku teks dan capaian pembelajaran.
Ketidakmampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan berdampak langsung pada kontekstualitas pembelajaran biologi. Guru yang tidak mengikuti perkembangan ilmu akan cenderung mengajarkan konsep biologi secara abstrak tanpa menghubungkan dengan isu kontemporer yang relevan.
Hal ini menyebabkan siswa mempersepsikan biologi hanya sebagai pelajaran menghafal.
Hal yang dibutuhkan untuk mengukuti perkembangan ilmu bukan sekedar program pelatihan untuk mendapatkan sertifikat, tetapi perubahan budaya yang mendasar yang menyadarkan bahwa menjadi guru biologi berarti menjadi pembelajar seumur hidup.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memfasilitasi guru untuk mengikuti perkembangan ilmu dengan membuat program Pendidikan Profesi Guru (PPG), dimana program ini memiliki visi ”Peningkatan kualitas pembelajaran dan relevansi pendidikan di seluruh jenjang” dengan indikator kinerja tujuan yang menjadi alat ukur keberhasilan yaitu ”Persentase guru dan tenaga kependidikan profesional”.
Namun, program ini tidak sepenuhnya menyelesaikan permasalahan yang ada, PPG Biologi menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur laboratorium dan teknologi pembelajaran. Banyak LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) penyelenggara PPG masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan peralatan laboratorium.
Akibatnya guru biologi yang mengikuti program PPG tidak mendapatkan pengalaman langsung yang cukup dalam untuk melakukan eksperimen-eksperimen biologi yang relevan.
Program PPG memerlukan perubahan untuk mengatasi permasalahan yang ada khususnya pada kurikulum PPG yang diperbaharui secara berkala dan kolaborasi erat antara institusi pendidikan guru dengan lembaga penelitian. Pengembangan profesional guru juga harus menjadi bagian wajib dari karier guru.
Tidak kalah penting dari program pemerintah untuk mengembangkan profesional guru mengukuti perkembangan zaman. Guru-guru yang sudah lama mengajar perlu memiliki mindset yang terus tumbuh dan kemauan untuk terus belajar, bukan hanya sekedar mendapatkan sertifikasi dan terjebak di zona nyaman.
Perlu ditanamkan di dalam pikiran bahwa untuk mewujudkan ”Indonesia Maju” siswa-siswa layak mendapatkan guru biologi yang tidak hanya memahami biologi konvensional, tetapi juga memahami dan membentuk mereka mengahadapi masa depan sains biologi Indonesia.

Opini:
- Jurusan : Magister Pendidikan Biologi Universitas Riau
- Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
- Jenis Tugas : Individu
- Nama : Awanda Prasono
Semester 1
NIM : 24052414411 - Dosen Pengampu : Prof. Dr. Firdaus, L.N, M.Si




